| ||cerita pendek||
Fay melirik jam. Sepuluh tiga puluh. Delapan jam. Delapan jam lagi gue akan ada dalam perjalanan ke kampus... akan ketemu orang-orang... akan gak sendiri lagi. I can´t stand this night. I can´t stand being alone. Gotta talk to someone or I´ll go nuts. "Halo..." "Frick, lo udah tidur?" "Yeah..." "Elo gak akan percaya ini." "Yeah. Tentu." "Tadi siang, lo tau..." "Heh jancuk!" potong Frick kejam."Tadi siang seharian gue kuliah sampe jam setengah tiga, bolak-balik ke himpunan, ke perpus, ke GKU, ngejar-ngejar Pak Enri, berantem sama Ogie. Gue capek!" Kesal, Fay membanting gagang telpon. Besok dia bakal ribut dengan Frick, dia tidak peduli. Dan kalau itu sampai terjadi... Bullshiiiiit!!!! Dia memaki dalam hati karena dia masih sedikit ingat pernah diajari sopan santun untuk tidak berteriak-teriak di rumah tengah malam. F**k! Kalo Frick pun udah gak peduli, fine! Gue gak butuh orang lain! Dan bayangan itu kembali melintas. Memanggilnya. Menggugatnya. * * * Gadis itu duduk di kursi rodanya sambil membaca sebuah novel. Bram Stoker´s Dracula. Dan jarum jam di ruangan itu berputar ke kiri. Perlahan-lahan ruangan itu berubah menjadi jalan di mana si gadis terkapar bersimbah darah. Lalu ia bangkit, berjalan mundur seperti semua kendaraan dan orang di jalan itu. Dan jalan itu berubah menjadi kamarnya. Ia sedang mengetik. Layar monitor berpendar. ...Sebuah mobil melintas kencang menyambar gadis itu... Padahal dia cuma sedang terlalu sering membaca bubin LantanG waktu itu. Dan rumah sakit itu kembali lagi. Bau obat menyegat. Putih, semua putih, sehingga mempertegas kekotoran dan kehinaannya. Jelas-jelas dia dengar suara itu. "Elo yang bikin dia jadi begini. Elo tau. Elo yang ambil satu kakinya." Siapa yang bicara? Semua teman-temannya sibuk sendiri, pura-pura melihat ke arah lain waktu Angga membisikkan beberapa kalimat, dekat sekali, ke telinga gadisnya yang kemudian tersenyum tipis. Atau Angga bisa suara perut? Atau Aya, Vivit, Dondi? Tidak mungkin. Atau salib di atas itu? Apalagi. Atau covergirl di sampul majalah yang dibawa Hari. Nonsens! "Elo kejam, Fay!" Siapa yang kejam? "Siapa yang lakuin ini sama dia?" Lagi apa gue ini? Fay membatin. Gue gak tidur. Mata gue terbuka lebar. Gue gak ngobat. Udah cukup gue liat Urgi kejang-kejang ampir mati, sesuatu yang ketika gue tulisin di cerpen sampah gue sebenarnya belom pernah gue liat sampe saat itu. Lalu apa ini? "Fay, Wia sayang kamu." Apa lagi ini? "Wia tau Wia gak pantes ngomong kaya gini, dan Wia tau kamu cuma nganggep Wia temen. Jadi... kalo kamu gak punya perasaan yang sama sama Wia, lupain aja ini yah, please. Karena Wia terlalu sayang kamu untuk keilangan kamu meskipun hanya sebagai temen." Bukan cerpen gua! desis Fay. Waktu itu dia baru mengantongi uang tujuh puluh lima ribu rupiah. Dan entah apa yang mendorongnya waktu itu untuk merangkul Wia dan mencium keningnya. "Gak, Fay, kamu gak sungguh-sungguh. Kamu gak perlu lakuin ini." Wia menarik dirinya. Fay menghapus air mata Wia. "Maafin gua." Waktu itu dia bukan Fay. Dia adalah Andra, tokoh dalam cerpen yang sekarang membacanya pun dia jijik. Entah datang dari mana ide murahan seperti itu. Tentu saja dari dia. Sari. Sari-nya Angga. Yang ia temani tersaruk-saruk belajar berjalan dengan sebuah kruk. Tentu saja Angga tidak ada. Dan Sari tidak tahu apa-apa. Sari tidak mengerti. Bahwa saat itu timbul sebuah pengertian bahwa betapa dia sayang gadis satu itu. Tapi bukan hanya itu. Karena seorang gadis yang selalu muncul dalam cerpen-cerpennya ternyata adalah dia, Sari. Hingga sekarang, tulisannya terbukti satu per satu. "Nonsens!" Frick mencelanya. "Gue bisa liat masa depan, Frick!" "Gila lo ya?" "Gak percaya ya udah!" Frick emang meledak-ledak--walopun mungkin satu-satunya yang mau mendengarkan dia. "Hell! Masa depan tai kucing! Lalu lo bikin apa sekarang? Apa lo gak pernah nulis lagi karena lo takut sama masa depan? Lo tungguin dulu semua masa depan lo itu terjadi baru lo nulis lagi?" * * * Gandi membanting ban serep di tangannya sambil mengumpat dengan semua koleksi kebun binatang. Ban itu tergeletak pasrah, tidak bisa memantul karena tidak cukup angin di dalamnya. Persis sekali. Sesudah itu tentu Gandi akan sibuk bertanya-tanya siapa yang bisa mengantar dia dan lalu dia akan ngamuk-amuk lagi karena pemilik dua motor yang diparkir manis di depan Student Center itu dua-duanya sedang kuliah. Tentu saja Fay tahu, sangat tahu apa yang akan terjadi. Bukankah kejadian itu sudah dia tulis satu atau dua taun yang lalu dan sebagai imbalannya adalah seratus lima puluh ribu yang dia pakai untuk membeli sepatu yang saat ini melekat di kakinya. "Fay!" Indra berteriak dari jauh."UP udah keluar." Dari sudut matanya Fay liat Gandi beranjak pergi. Ke jurusan, mungkin. Harusnya gak gini. Harusnya tiba-tiba dia dapet telpon dan... Cengiran lebar Indra yang tiba-tiba sudah ada di dekatnya membawanya kembali ke bumi. "Oh, yeah, gue dapet apa?" "Gue gak apal NIM elo. Ke jurusan aja, anak-anak pada di sana." "Lo mo ke mana?" "Pulang. Yuk." Indra pergi menjauh dan Fay terbengong-bengong lagi. Gandi balik lagi sambil menggenggam ponselnya, mukanya masih ditekuk. Baru ketika itu Fay memperhatikan t-shirt Gandi. T-shirt kampus: ´Since 1920´. Warna hitam. Fay menyambar ranselnya, bangkit. Oh, tentu aja Gandi nerima telpon lewat HP. Sebuah kenyataan yang sempet bikin dia lega, lalu dia bingung sendiri. Haruskah dia lega? Mengetahui bahwa apa yang terjadi sama Gandi sesuai dengan apa yang dia bayangkan. Tapi t-shirt-nya beda. Harusnya t-shirt bola. Nomer 7. David Beckham. Warna merah. Harus begitu karena... Sebuah motor nyaris menabraknya. Rupanya ia berjalan terlalu ke tengah. Pengemudi motor itu memakinya. Fay tersentak. NSR. Nomer Surabaya. Helm hitam berstrip jingga terang. Fay berlari kencang, balik ke sekre. Terengah-engah. Panik. "Kenapa lo, Fay?" Dani bertanya heran. Fay memandang sekeliling. Tidak ada NSR. Tapi tidak ada Gandi juga. "Gandi mana?" "Apaan, Fay?" dan Fay baru sadar kalau tadi dia pasti berteriak karena Gandi nampak berjalan dari arah kamar mandi yang jaraknya cukup jauh. "Gak... gak pa-pa, " jawabnya lemas. Bagaimana dia bisa bilang bahwa Gandi seharusnya dijemput seseorang naik motor, dan kita semua tidak ada yang tahu siapa pengemudi motor itu. Tapi Sari--tepatnya personifikasi Sari karena dia sudah lupa entah nama apa lagi yang dilekatkannya pada karakter gadisnya--melihatnya ketika motor itu berhenti di lampu merah, mengenali NSR dan helm hitam itu, mengenali t-shirt merah dan nomer punggung tujuh itu. Dan Sari tahu hubungan antara semua itu dengan sebuah telpon anonim, "Hati-hati. Somebody hate you." * * * Fay menyalakan komputernya. "File-nya Dian Sastro, " Fay meringis. Linda juga, mengingat asisten galak yang beberapa jam yang lalu berbusa-busa mengingatkan tenggat tugas mereka. Asisten yang konon penggemar berat Dian Sastro dan punya dua VCD Ada Apa dengan Cinta?, satu untuk ditonton full dan satu untuk di-pause pada adegan-adegan tertentu. Sembarangan banget Fay ngasih nama file."Gue ke belakang dulu ya." "File-nya ditaro di mana, Fay?" Tapi Fay sudah terlanjur menghilang. Sepasang mata ingin tahu Linda menjelajah kamar itu. Tidak ada yang terlalu istimewa. Berantakan, tapi tidak terlalu acak-acakan. Dia meng-klik ikon Windows Explorer, lalu My Documents. Ah, hutan rimba gini, rutuknya melihat deretan folder dan file. Dibukanya program Search. Diketiknya entry: dian. Sederetan hasil muncul di monitor, termasuk beberapa file JPEG. Linda meringis. Ini kali ya. Dia membuka sebuah file MS Word. Hey...! Yang terpampang di monitor itu bukan makalah yang dia cari. Tentu saja. Judulnya bener-bener Dian. Itu cerpen. Hwaa... Linda tercengang. Fay? Cerpen? Gak nyangka. Linda kembali ke Search, mencari Dian yang terselip itu. Ketemu juga. Tak lama dia sudah mulai bekerja, memasukkan beberapa data baru sekaligus mengedit. Fay masuk lagi, membawa gelas dan botol air minum. Menyalakan tip. Linkin´ Park. Astaga... "Baca dulu gih, Fay," suara Linda mengejutkan Fay yang iseng membolak-balik Kosmopolitan Linda. "Tujuh jurus jitu memikat..." "Bukan itu, moron!" Linda membentak, tapi lalu tidak bisa menahan tawanya. "Males ah. Gue ikut lo aja." "Ya udah, gak nyesel?" Fay menggeleng."Ini langsung nge-print aja kan?" "Langsung aja. Kertasnya ada kan?" Linda meng-klik perintah Print. Enam belas lembar. Printer mulai berdetak pelan. Iseng, dia membuka file yang tadi. Dian. "Elo nulis cerpen juga ya, Fay?" "Eh?" Fay menoleh. Tertegun. Terpaku. "Elo...," Linda baru menyadari sesuatu."Hey! Fey Indera itu elo yah? Kok lo gak pernah bilang-bilang sih?" "Jangan dibaca!" Fay berteriak. * * * "Welcome to Simulator V-2020. We bring your imagination to reality. Please choose the program you want." Fay memasukkan sebuah cakram dan menekan layar sentuh. "This program will be started in thirty seconds. We give one hundred percent safety guarantee. We will begin the countdown. Fifteen... ten... five... four... three... two... one..." Fay terlempar ke sebuah lorong sepi. Gelap. Dingin. Jarum suntik tergeletak di dekatnya. Dia menggigil, lalu perlahan-lahan sekelilingnya mengabur dan dia merasa tubuhnya ringan... semakin ringan... Jadi gini rasanya. Damai. Indah. Menurut manual, keseluruhan program akan berlangsung selama lima menit. Tapi waktu seakan tidak ada artinya. Semua hampa. Hingga komputer sialan itu menghitung mundur lagi. "Five... four... three... two... one..." Fay menutup mata. Mencoba mengingat-ingat sensasi yang baru saja ia rasakan. Ia menekan layar sentuh lagi. "Five... four... three... two... one..." Dan rasa pedas tiba-tiba terasa di pelipisnya. Bukan play station. Bukan timezone. Dia melontarkan beberapa tendangan. Lawannya yang agak mirip Van Damme menangkis dengan lengannya yang sebesar piring. Dia mundur. Lawannya menyarangkan serangkaian tendangan beruntun. Ia menghindar, melentingkan badannya. Ruangan berputar... Huh! Ngayal gue udah gak nyambung! Fay menekan tombol Escape lalu mematikan media player-nya. Keanu Reeves menghilang dari monitor. Kalau dulu ada simulator kayak gitu, kalau semua hal bisa distimulir di otak kayak Matrix, kali cerpen-cerpen gue bakal lebih hidup, bakal lebih realistis. Karena banyak hal yang gue tulis itu sebenarnya hanya hasil kembara imajinasi gue. Sebagai ekstase dari hidup gue yang biasa-biasa saja. "Hey! Fey Indera itu elo yah?" Salah satu dari sekian banyak kebohongan fansi gue. Seperti sutradara kapiran yang mendramatisasikan sesuatu yang sesungguhnya tidak luar biasa. "Percuma! Yang ini gue pernah baca. Gue penggemar cerpen-cerpen elo, tau?" Rentang sekian taun mempertemukan gue sama sosok yang dulu imajiner, seorang yang membaca tanpa mengetahui siapa gue. Bukan salah satu dari mereka yang minta traktir sepulang gue dari kantor pos. (Frick gak pernah baca cerpen gue sampe ketika ketakutan itu mulai meneror gue, gue tunjukin cerpen-cerpen itu ke dia. Itupun cuma dibaca sekilas. Dasar Frick!) "Are those true story? Elo ada di situ?" Rasanya seperti pengadilan. Dan gue gak tau apa yang lebih baik, gue ada atau tidak ada di situ. Baik atau jahat, gue gak tau apa dan siapa gue dulu... dan sekarang. * * * Tok-tok-tok yang makin lama makin cepat itu akhirnya berubah menjadi bruk-bruk-bruk. "Frick! Frick!" kesal Fay setengah berteriak. Kos-kosan orang ini! Satu-satunya kesadaran yang menahan dia untuk tidak menendang pintu di depannya kencang-kencang. Bukannya dia sungguh-sungguh ada perlu dengan Frick, tapi akhir-akhir ini dia memang gelisah dan temperamennya jadi seperti remaja puber saja. Dia menoleh ke Coki yang sedang membaca koran sambil minum kopi."Dia beneran ada, Cok?" "Ada. Gue pulang dia ada kok." "Lo balik jam berapa?" "Jam tujuh." Sekarang sudah jam setengah sembilan tapi ucapan Coki mungkin masih bisa dipertanggungjawabkan. Lewat jam tujuh malam angkot ke bawah sudah langka. Fay sudah bersiap-siap mengetuk lagi ketika pintu tiba-tiba terbuka. Sebuah suara lirih terdengar, "Masuk, Fay!" Kamar itu gelap dan Fay hampir tidak mengenali pemilik suara itu. Tapi dia masuk juga dan sosok yang setelah agak lama dia kenali sebagai Frick sungguhan itu kembali menutup dan mengunci pintu. * * * "Lo sakit, Rif." "Iya, gue sakit. Ngapain lo di sini? Apa yang lo tau tentang sakit, lo dengan hidup lo yang sempurna." "Gue sayang elo, Rif." Arif menepis tangan Indah. "Lo sayang sama hantu!" Indah terpana. Terperangah. Terhenyak. Sosok di depannya memang hantu. Bukan Arif yang percaya diri dan periang, yang menjalani hidup seolah tanpa beban. Tapi dia Arif-nya. "Lo nyalahin hidup, Rif?" desisnya lirih."Hidup yang udah bikin keluarga lo pecah, sekolah lo berantakan, bikin lo lakuin itu, keluar dari diri lo sendiri dan ngelakuin hal-hal yang sekarang lo sesalin?" Dan ganti Arif yang terpana. Pistol yang sebelumnya tergeletak di meja kini sudah berada di tangan Indah. "Come on, kalo lo segitu bencinya sama hidup, lakuin aja. Finish it!" * * * "Gue tau sejak gue kuliah, " Frick tahu Fay mendengarkan meskipun selama tiga puluh menit cuma Billy Corgan yang memecah keheningan. "Jangan tanya gue dapet dari mana. Idup gue pernah ancur." Meskipun ratusan pertanyaan berjejalan di otaknya, mengajukan salah satunya bukan hal yang ingin Fay lakukan saat ini. Melihat Frick meringkuk bermandikan keringat dengan tubuh gemetar cukup mencekat tenggorokannya. Lagi, hening berlama-lama. Darah yang masih mengalir dari hidung dan pelipis kiri Frick membuat Fay sedikit pening. Kini dia tahu kenapa di kamar Frick tidak ada kaca. "Lo tau, Fay, dunia gelap itu emang ada. Harusnya lo bersyukur lo gak di sana." "Lebih baik gue pernah di sana dan menulis apa yang udah lewat dari pada gue hanya membayangkan tapi apa yang gue bayangkan lalu terjadi." "Lo emang romantis, eh," Frick mulai bisa melontarkan senyum sinisnya yang biasa. "Lo menutup mata dan membayangkan. Gue membuka mata dan mengalami. Bukan dulu, tapi sekarang." * * * Lelucon yang buruk. Riki memang sering melontarkan lelucon, tapi kali ini leluconnya buruk. Gak lucu sama sekali. "Haha..." sindirnya tajam. "Coba lagi, Ki." "Maya, ini beneran." Ada yang salah dengan potret ini. Langit biru cerah, sekilas terdengar burung berkicau, di blok sebelah terdengar anak-anak bermain, bakung putihnya menguncup indah. Ada keping puzzle yang gak cocok dan itu adalah Riki. Karena di suasana sore seindah ini, gak mungkin Ian mati. "Lo bilang dia duluan? Di antara kita bersembilan dia yang duluan? No way Jose!" * * * Kadang-kadang kenyataan menamparnya seperti ini. Bodoh sekali. Bagaimana caranya dia bisa bayar utangnya ke Frick. "Nonsens, Fay! Lo tau that´s not how it works. Hidup adalah kumpulan konsekuensi." Dan ini adalah konsekuensinya. Pukulan telak yang harus dia terima agar dia terbangun. Dan toh ketika dia terbangun, dunianya masih di situ. Hidupnya masih di situ. Walaupun Frick tidak. Udara berat terasa menekan. Dia berjongkok--seolah dengan itu bisa menghilangkan sedikit bebannya. Dia merasa Frick ada di balik gundukan tanah merah yang belum bernisan itu, mendengarkan. Mungkin melontarkan senyum sinisnya. Fay merasa hampir-hampir bisa mendengar suara Frick di telinganya berujar, "Gue bilang juga apa!" Perlahan dia bangkit dan beranjak pergi. Membawa kehilangannya, ruang kosong yang akan tetap nganga walau hidup akan mengisinya perlahan-lahan. Dia tahu kaki-kakinya masih butuh melangkah. So long, pal! ...requiscat in pace |
|