||film||
Semasa SMA saya pernah membaca sebuah cerpen di sebuah majalah remaja yang berkisah tentang seorang mahasiswa ITB tingkat pertama. Dalam keadaan bete dia membanding-bandingkan ITB dan SMA serta merutuki betapa kuliah di ITB ternyata sangat berat dan melelahkan. Sebenarnya yang ingin saya bahas di sini bukan itu, melainkan sepenggal kalimat tokoh utamanya, "Mana hura-hura dan pesta gila-gilaan yang selalu digambarkan dalam film tentang kehidupan kampus?" (Cerpen Pilihan, Luciferina, HAI tahun 1994).
Dunia mahasiswa dalam kacamata Hollywood nampaknya memang tidak terlepas dari pesta dan hura-hura. Wajar saja, karena lumrahnya seseorang akan dianggap dewasa ketika lulus SMU dan hidup terpisah dari orang tuanya. Dengan terlepas dari orang tua, berbagai pintu kebebasan pun terbuka. Tapi benarkah demikian remehnya Hollywood memandang mahasiswa dan kehidupan kampus?
Beberapa film memang melulu menggambarkan sisi hura-hura dari kehidupan kampus. Biasanya dalam balutan tema yang tidak habis-habisnya dibahas sejak College (1927) hingga College (2002): cinta. Jatuh cinta, patah hati, perselingkuhan, kasih tak sampai, cinta tragis ala Romeo dan Juliet, dan seterusnya. Suasana kuliah, konflik dengan dosen, atau perpeloncoan di rumah persaudaraan terkadang hanya menjadi bumbu. Sebut saja film klasik Love Story (1970) yang berkisah tentang sepasang kekasih dengan latar belakang yang berbeda. Genre lain adalah komedi, dengan salah satu yang tersukses adalah Revenge of The Nerds (1984) yang berkisah tentang gerombolan ´kutu buku´ yang selalu dilecehkan dan akhirnya membalas dendam dengan cara mereka sendiri. Komedi kampus akhir-akhir ini tampil dalam kemasan yang jauh lebih vulgar, sebut saja Road Trip (2000) dan American Pie 2 (2000). Ketika terjadi booming film horor remaja, kampus ikut terangkat sebagai setting, antara lain untuk film Scream 2 (1998) dan Urban Legend (1999).
Toh masih ada beberapa film yang mencoba mengangkat tema yang lebih luas. Salah satunya With Honors yang membenturkan seorang mahasiswa tingkat akhir pada kenyataan sosial di sekitarnya yang ternyata tidak seideal yang digambarkan dan ia bayangkan di bangku kuliah. Film lain, Good Will Hunting (1997), bahkan menyiratkan ejekan yang lebih tajam terhadap dunia pendidikan. Di film yang skenarionya ditulis Matt Damon dan Ben Affleck ini, Will Hunting (Damon) yang ´hanya´ seorang tukang sapu berhasil menyelesaikan sebuah soal matematika yang para profesor pun membutuhkan waktu setengah tahun untuk menyelesaikannya. Adegan pertengkaran seorang psikiater dan seorang profesor matematika mengenai masa depan Will mengungkapkan betapa relatifnya ukuran keberhasilan jika dilihat dari kaca mata hidup. Namun di akhir film, entah menjadi klimaks atau antiklimaks, Will justru meninggalkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan besar dan memilih mengejar gadis yang dicintainya ke Washington.
Mungkin dari serangkaian film itu kita bisa melihat perbedaan mahasiswa di luar negeri (tepatnya mahasiswa di negara-negara maju seperti Amerika) dengan mahasiswa Indonesia. Salah satu film yang paling pas menggambarkan kehidupan kampus konon adalah Higher Learning (1995) yang mengangkat sejumlah topik yang terjadi di kampus. Tapi topik seperti rasisme dan perkosaan saat kencan mungkin bukan topik yang umum bagi mahasiswa Indonesia. Salah satu perbedaan yang cukup nyata, mahasiswa di sana hanya berkutat di masalah studi dan keilmuan, sedangkan mahasiswa Indonesia digantungi berbagai beban: tanggung jawab sosial, agen pembaruan, dan entah apa lagi. Toh mahasiswa Amerika dalam kacamata Hollywood tak selamanya berkurung dalam menara gading. Film 1969 (1988) berkisah tentang mahasiswa yang terlibat protes menentang Perang Vietnam.
Bagaimana dengan film Indonesia sendiri? Ternyata dengan bekal sejarahnya itu, film Indonesia yang berkisah tentang mahasiswa masih lebih banyak berkutat (lagi-lagi) di masalah cinta. Yang paling fenomenal sebut saja Kampus Biru (1976) yang diangkat dari novel populer karya Ashadi Siregar. Catatan Si Boy yang dibuat hingga lima seri dan berkisah tentang Boy yang mahasiswa nyatanya lebih banyak berkisah tentang petualangan Boy berganti-ganti pacar. Menyusul kesuksesan film ini (juga lima seri Lupus yang bersama-sama Boy menjadi tokoh idola remaja), sejumlah film dengan tema mirip dibuat, namun hanya beberapa yang layak dicatat. Di antaranya Joe Turun ke Desa (1989) yang berkisah tentang sejumlah mahasiswa yang sedang KKN, dan Rebo dan Robby (1990) yang berkisah tentang mahasiswa dari desa yang ingin mempersunting gadis kota yang cantik. Kedua film itu dibintangi Didi Petet yang sekarang kita kenal di sinetron-sinetron dalam peran bapak teladan. Selain film-film ´serius´ (tapi kadang-kadang lucu) itu, beberapa film komedi tentang mahasiswa juga dibuat, di antaranya dibintangi Kelompok Warkop DKI yang jebolan UI.
Film yang bertutur tentang gerakan mahasiswa bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Sebutlah Yang Muda Yang Bercinta yang diproduksi tahun 1977 namun baru diberi ijin tayang tahun 1993. Dengan judul yang kenes, film ini justru mengangkat sejumlah masalah aktual pada masanya. Djakarta 1966 (1982) berkisah tentang keadaan genting Jakarta pada pasca G30S PKI, termasuk sejumlah demonstrasi mahasiswa. Gema Kampus ´66 (1988) yang bersetting di kampus ITB justru mengisahkan dua sisi, pergerakan mahasiswa di tahun 1966 dan lunturnya idealisme beberapa aktivis ketika lepas dari kampus. Tema kegamangan mahasiswa setelah lulus dan menjadi sarjana—seperti yang juga diangkat film Gen-X Reality Bites (1994)—diangkat lagi di film Taksi (1990) dan Bibir Mer (1991), keduanya garapan (alm) Arifin C. Noer.
Bagaimana dengan film Indonesia sekarang? Pasca kebangkrutannya di dekade ´90-an, nampaknya belum ada sineas yang khusus memotret kehidupan kampus lewat filmnya. Spesialis film remaja Rudi Soedjarwo agaknya lebih senang memotret kehidupan anak SMU. Film box-office Jelangkung (2001) memang berkisah tentang beberapa orang mahasiswa, tapi percakapan yang agak intelek (walaupun terkesan tempelan) hanya terjadi di satu adegan.
Sebagai penutup, mungkin menarik membahas film yang sempat menjadi standar materi OS beberapa himpunan di ITB, Dead Poets Society (1989). Film ini sebenarnya berkisah tentang sebuah preparation school, setingkat kelas 3 SMU tapi agak mirip program TPB. Pertanyaannya, apakah gerakan mahasiswa, kemahasiswaan, atau apapun namanya, masih mengacu kepada pemberontakan terhadap sistem yang mengekang? Jawabannya mungkin tidak dapat kita cari di film, Hollywood maupun Indonesia. Tapi Dead Poets Society mencontohkan hal lain, bahwa berdiri di atas meja pun menyiratkan sebuah pernyataan.
Rani
Liga Film Mahasiswa ITB
5 Maret 2002
sedikit tentang:
Tulisan ini gue bikin untuk di-submit ke Boulevard, makanya nyebut-nyebut ITB. Tapi ditolak euy. Wahai, jikalau ada anak Boulevard yang membaca, sudilah kiranya menjelaskan kenapa ditolak? ;P |
Dunia mahasiswa dalam kacamata Hollywood nampaknya memang tidak terlepas dari pesta dan hura-hura. |