Not Just Movie

|| film ||

Saat ini seluruh dunia gempar dengan adanya tragedi besar yang menimpa Amerika Serikat. Bayangkan, empat pesawat komersial dibajak dari empat bandara, dua di antaranya menabrak menara kembar World Trade Center di New York, satu menghujam Pentagon, yang terakhir jatuh di sekitar Pennsylvannia. Konon, pesawat itu dibajak untuk maksud yang sama dengan target White House atau Capitol Hill. Luar biasa!

Bagi yang menyaksikan TV saat peristiwa naas itu terjadi (Selasa malam waktu Indonesia) mungkin sebelumnya sempat juga menonton film Seven Days yang ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi swasta. Film fiksi-sains itu bercerita tentang perjalanan waktu untuk mencegah terjadinya sebuah aksi gila: penabrakan sebuah pesawat bermuatan bom kimia langsung menuju kediaman Presiden Amerika Serikat White House.

Siapa pun otak di balik peristiwa ini, boleh saja kita berandai-andai, mungkin sempat menonton film Seven Days sebelum merancang aksinya. Atau mungkin juga ia sempat menonton film-film lain sebagai referensi: Air Force One yang berkisah tentang pembajakan pesawat kepresidenan AS, Mars Attacks tentang serbuan makhluk luar angkasa dari planet Mars, Fight Club tentang seseorang berkepribadian ganda yang mengorganisir gerakan rahasia menghancurkan sejumlah bangunan vital penggerak ekonomi kapitalis, dan sederet film lainnya. Bahkan presiden George W. Bush pun mungkin terinspirasi pidato menyentuh Bill Pullman di film Independence Day ketika berucap sedih di depan kamera televisi "Freedom is under attack."

Sensasional, memang, dan selama ini hanya sesuatu yang kita bayangkan terjadi di film-film. Bahkan sepanjang ingatan saya sejauh ini belum ada film yang menggambarkan aksi yang terorganisir sedemikian rapi dan bisa dibilang berhasil ini. Tapi peristiwa ini hampir dapat dipastikan akan menginspirasi banyak penulis, sutradara, dan produser untuk membuat film "berdasarkan kisah nyata" seperti Perang Dunia II menginspirasi film Pearl Harbor dan Schlindler´s List, pembunuhan Presiden John F. Kennedy menginspirasi pembuatan banyak film termasuk JFK dan sebuah episode serial TV The X-Files, atau potret perjuangan seorang ibu muda yang kemudian menjadi film Erin Brockovich. Pada akhirnya timbul pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah bisa dijawab "Is art imitating life or life imitating art?"

Film sebagai sebuah karya seni memang memiliki keunikannya tersendiri. Karena diperlukan segenap indera untuk menikmatinya, film menghadirkan realita imajiner yang bukan hanya mudah dicerna ketika kita menikmatinya, tapi juga dengan mudah menelusup dan mengendap di dasar kesadaran.

Film terbukti dapat memicu terjadinya perubahan. Sebagai contoh kecil adalah dunia mode yang berubah total di tahun <´50-an dengan kehadiran Marlon Brando dan James Dean. Dean bahkan telah menjadi ikon dengan Rebel Without A Cause-nya. Di tahun ´70-an, siapa tak kenal goyangan si rambut jambul John Travolta dengan Grease dan Saturday Night Fever-nya. Bahkan pertengahan tahun ´90-an yang lalu banyak yang mendadak memangkas rambutnya ala tentara mengikuti penampilan cepak Keanu Reeves di film Speed.

Perkembangan film juga beriringan dengan perkembangan teknologi, bahkan bisa dibilang saling mempengaruhi. Alat-alat "canggih" yang dipergunakan di serial lawas Mission:Impossible bertahun-tahun kemudian telah menjadi biasa bahkan kuno ketika remake film serial ini, New Mission:Impossible, dirilis. Dan bahkan alat-alat di serial itu pun kembali menjadi ketinggalan zaman ketika Brian de Palma membuat film layar lebar Mission:Impossible disusul John Woo membuat M:I-2 yang keduanya dibintangi si ganteng Tom Cruise. Sebuah "contoh" lucu bagaimana teknologi mengikuti film adalah film Galaxy Quest yang dibintangi Tim Allen dan Sigourney Weaver. Film ini bercerita tentang film seri TV Galaxy Quest di tahun ´70-an yang menceritakan perjalanan sebuah pesawat ruang angkasa. Gelombang TV yang memancarkan film ini ternyata dapat ditangkap oleh alien di sebuah planet, dan mereka membangun pesawat ruang angkasa mereka sendiri berdasarkan desain pesawat di serial TV tersebut. Dan berhasil!

Film juga dapat menyentuh dan memberikan pencerahan. Familiar dengan film Dead Poets Society? Film ini telah menjadi ikon untuk pencarian jati diri dan pemberontakan terhadap sistem yang mengekang.

Contoh bagaimana sebuah film dapat sedemikian berpengaruhnya dalam kehidupan saya ambilkan dari film Italia Cinema Paradiso. Film ini berkisah tentang sebuah bioskop di sebuah kota kecil. Bioskop ini menjadi salah satu pusat kehidupan di kota tersebut: tempat sepasang kekasih bertemu dan jatuh cinta, tempat seseorang selalu jatuh tertidur saat menonton film sehingga ia kerap diganggu oleh warga lain yang menonton di situ, tempat anak-anak diam-diam merokok, bahkan tempat terjadinya sebuah pembunuhan. Toto, tokoh utama film itu, bahkan menemukan sosok ayahnya yang sudah meninggal melalui poster film Gone With The Wind yang dibintangi Clark Gable.

Kembali kepada film Seven Days, mungkin kita bisa sekali lagi berandai-andai bahwa perjalanan waktu telah bisa dilakukan. Dengan demikian kita bisa kembali ke saat sebelum tragedi itu terjadi dan sebuah misi khusus nun di Amerika sana (yang oleh film-film Hollywood selalu digambarkan kehebatannya) dapat mencegahnya. Kita lihat saja minggu depan. Seandainya saja...

rani.lfm.13092001
(inspired from indomovie)

sedikit tentang:
Ini salah satu tulisan-LFM gue. Waktu itu diminta menulis "sesuatu" tentang film for the next-day. Deadliner as usual. Dapet inspirasi dari sebuah posting di indomovie. I like this writing 'tough, never been published anywhere because it's only relevant for a week (perhatiin tanggal-tanggal yang keluar, you'll see what I mean). This is also my first writing related with 9/11 tragedy. It's shocking, and God-please-forgive-me, it's tempting my conspiracy mind :)




















Pada akhirnya timbul pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah bisa dijawab "Is art imitating life or life imitating art?"